Saturday, May 2, 2020

Hari Buruh


MAYDAY MAYDAY MAYDAY

Tidak ada pekerjaan mengeluh. Ada pengerjaan pun juga mengeluh. Lah kenapa mesti mengeluh, bukannya bagus ya jika sudah memiliki pekerjaan?. Jangan berprasangka buruk dulu dengan pernyataan tersebut dengan menuduh mengeluh karena pekerjaan. Mengeluh yang dimaksudkan di sini bukannya karena kurang bersyukur atas pekerjaan itu, namun apakah wajar jika seorang manusia diberikan 19-20 jam kerja dalam sehari dengan upah yang tidak (maaf) katakanlah untuk makan saja masih pas-pasan. Bagaimana untuk menunjang kebutuhan lainnya jika kebutuhan pangan (makanan/minuman) saja masih tidak cukup lalu mau melangkah jauh kepada kebutuhan sandang maupun papan. Lagi-lagi bukannya mengeluh, namun di mana letak kemanusiaannya. Dalam sehari ada 24 jam, bila dikurangi dengan 19-20 jam kerja, maka hanya menyisahkan 4-5 jam saja dalam sehari untuk me­-recovery kembali tubuh kita sebelum akhirnya lanjut kembali untuk bekerja. Inilah yang setidaknya dirasakan oleh para buruh di AS pada abad 19.
Mari kita menelusuri kembali ke belakang melihat sejarah lahirnya Hari Buruh Internasional. Jadi, Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan peristiwa panjang serta perjuangan keras kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi. Kapitalisme industri di abad 19 seolah-olah menjadi mimpi buruk bagi para buruh di Eropa Barat dan AS. Jam kerja yang panjang, minimnya upah serta kondisi yang kerja yang buruk di tingkatan pabrik, membuat kelas pekerja saat itu naik pitam dan mencoba mengadakan sebuah perlawanan.
April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide² International Workingsmen Association. gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum mei untuk merealisasikan tuntutan "delapan jam sehari". Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. lalu 30.000 pekerja lainnya bergabung dengan mereka di kemudian hari. para pekerja turun ke jalan bersama anak² serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal "delapan jam sehari" dan pemogokan ini membawa aktivitas industri di chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.
1 mei 1886 (kemudian dikenal sebagai May Day), sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh federasi buruh amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di AS. Dua hari kemudian, 3 mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick.
Polisi dengan membabi-buta menembaki pemogok yang berhamburan, pada saat kejadian ini terdapat empat orang tewas dan jauh lebih banyak lagi luka². ini menimbulkan amarah di kalangan kaum buruh, sebagian menganjurkan supaya mereka membalas dengan mengangkat senjata. 4 mei 1886, berlokasi di bunderan lapangan Haymarket, para buruh kembali menggelar aksi mogoknya dengan skala yang lebih besar lagi kira2  ada sekitar 400.000 buruh, aksi ini jaga ditujukan sebagai bentuk protes tindakan represif polisi terhadap buruh. semula aksi ini berjalan dengan damai, karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Tidak ada yang mengetahui siapa yang melempar bom tersebut. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, sehingga 200 orang terluka, dan banyak yang tewas.
Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan² bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. mereka menyerukan 'sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal'. bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan ‘delapan jam sehari’, tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada kongres internasional kedua di Paris, 1889, 1 mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari. Juga pada kongres untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak² mereka. Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara, tanggal 1 Mei 1890, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.
Lalu, bagaimana dengan sejarah Hari Buruh di Indonesia ???
Berikut sejarah singkat Hari Buruh di Indonesia yang coba saya rangkum dari berbagai sumber. Hari Buruh pertama kali diperingati di Indonesia pada tahun 1920. Namun, pada masa Presiden Soeharto, Hari Buruh tak lagi diperingati karena identik dengan paham komunis serta diklaim masuk dalam kategori aktivitas subversif. Selama masa orde baru, letupan-letupan protes masih tetap ada meski tak banyak, ada upaya pemogokan kerja namun tak besar. Protesnya pun seputar upah layak dan upah lembur. Unjuk rasa buruh kembali terjadi setelah reformasi pada tanggal 1 Mei Tahun 2000. Pada saat itu buruh melakukan aksi mogok kerja selama se-pekan penuh dan semenjak masa itu buruh selalu turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Bahkan tak hanya buruh melainkan diikuti pula oleh para mahasiswa, para aktivis hingga masyarakat umum. Selain menuntut kesejahteraan, buruh juga menuntut agar tanggal 1 Mei dijadikan hari libur nasional di Indonesia. Tuntutan tersebut barulah dapat dikabulkan setelah 13 tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 2014 oleh Presiden SBY. Sejak awal diperingati Hari Buruh hingga saat ini, tuntutan buruh tidak banyak berubah yaitu masih seputar kesejahteraan. Pada pertengahan April 2019 sejumlah organisasi buruh bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor. Mereka menyampaikan beberapa tuntutan terutama soal revisi PP No. 78 Tahun 2015. Saat ini pengaturan tentang buruh telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tentang Ketenagakerjaan. Di dalam Bab 1 Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 13 Tentang Ketenagakerjaan dijelaskan bahwa, pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Secara umum, pengertian buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapatkan upah. Dalam konteks kepentingan di dalam suatu perusahaan terdapat dua kelompok, yaitu kelompok pemilik modal (owner) dan kelompok buruh, ialah orang-orang yang diperintah dan dipekerjakan dan berfungsi sebagai salah satu komponen dalam proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentang nilai lebih disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih disebut sebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih itu disebut buruh. Sekilas kita dapat melihat kembali tuntutan di hari buruh pada tahun 2019 :
1.      Hak berunding serikat buruh soal kenaikan upah minimum
2.      Formula kenaikan upah minimum dihitung dengan formula survei pasar
3.      Pemberlakuan upah minimum sektoral secara menyeluruh

Meminta kesejahteraan layak, tentu menjadi hak semua pekerja, namun mengimbanginya dengan meningkatkan keahlian buruh tentu juga dibutuhkan. Kita sama-sama berharap semoga di tahun 2020 ini dan di tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi kesenjangan yang terjadi antara pemilik modal dan kaum buruh terkait permasalahan-permasalahan yang kerap kerap kali terulang. Ini memang membutuhkan proses panjang tapi setidaknya seccara pelan-pelan mari kita secara bersama-sama menemukan solusi dari akar permasalahan tersebut dan mari ciptakan situasi yang kondusif. Jangan menjadikan hal-hal buruk di masa lalu sebagai alat untuk memulai lagi permasalahan itu di masa sekarang. Semoga semua kaum tidak hanya kaum buruh melainkan semua dari kita umat manusia mendapatkan kesejahteraan yang layak dan memadai. Mari bersama-sama memanusiakan manusia. Kapitalisme bukan di sini tempatnya. Selamat Hari Buruh.



Referensi:

elastica


Wednesday, April 22, 2020

Self Reminder


BAHAGIA DENGAN CARAKU SENDIRI

Jika dipikir-pikir, apa sih tujuan hidup kita di dunia ini? Selama berziarah di dunia ini kita telah dilekatkan oleh tanggungjawab masing-masing untuk mencapai sebuah tujuan. Saya berpandangan bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencari dan menggapai suatu kebahagiaan. Tentunya dengan takaran porsi kebahagiaan yang berbeda-beda dari tiap-tiap personal yang mengalami dan merasakannya. Namun, banyak fenomena yang saya temui akhir-akhir ini khususnya pada orang-orang di sekeliling saya yang saya ajak berinteraksi maupun hanya sekedar berpapasan sangat jelas menandakan bahwa mereka terlihat kurang bahagia. Dari cara berbicara, gaya dan ekspresi sangat jelas menandakan bahwa mereka sedang tidak dalam keadaan bahagia. Apa penyebabnya? ya saya tidak tahu karena saya tidak sempat menanyakan untuk masuk lebih dalam kepada kehidupan mereka. Saya hanya akan mencoba mengulas sendiri apa yang kira-kira menjadi alasannya. Dari contoh tersebut saya akan mencoba membahas mengapa dari antara kita ada saja yang merasa tidak atau kurang bahagia dan ada pula orang yang senantiasa merasa bahagia meskipun sering kali ditimpa musibah atau bahkan selalu dikucilkan di lingkungan tempat tinggalnya. Apa resepnya sehingga mereka senantiasa bahagia dalam kondisi itu. Hanya sekedar info dan tidak bermaksud untuk menggurui karena tulisan ini masih jauh dari kata sempurna bahwasannya ialah bahagia itu sebenarnya dapat dilakukan oleh diri sendiri dengan hal-hal sederhana yang tidak perlu membuang banyak tenaga dan materi serta apapun itu yang akan menjamin kebahagiaan kita. Kalimat barusan mungkin terlihat simpel dan sederhana, namun nyatanya di kehidupan sehari-hari terkadang kita acuh tak acuh serta tidak peduli lagi dengan hal-hal tersebut.
            Sebelum melangkah lebih jauh, pertama-tama yang perlu kita ketahui apa sih sebenarnya kebahagiaan itu dan bagaimana cara kerjanya sehingga menimbulkan reaksi yang kita sebut bahagia ?. Saya berangkat dari penjelasan oleh para ahli. Kebahagiaan menurut Aristoteles (dalam Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata happy atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, goodluck, good reputation, good friends, good money and goodness. Kebahagiaan merupakan sebongkahan perasaan yang dapat dirasakan berupa perasaan senang, tentram, dan memiliki kedamaian (Rusydi, 2007). Sedangkan happiness atau kebahagiaan menurut Biswas, Diener & Dean (2007) merupakan kualitas dari keseluruhan hidup manusia - apa yang membuat kehidupan menjadi baik secara keseluruhan seperti kesehatan yang lebih baik, kreativitas yang tinggi ataupun pendapatan yang lebih tinggi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.
            Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya. Arti kata “bahagia” berbeda dengan kata “senang” . Secara filsafat kata “bahagia” dapat diartikan dengan kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan (dalam Kosasih, 2002). Para filsuf dan pemikir agama telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi.
            Terlepas dari pendapat para ahli di atas, kebahagiaan dapat pula dijelaskan secara ilmiah. Adalah hormon serotonin atau dikenal sebagai hormon kebahagiaan yaitu hormon dalam otak yang menstimulasi perasaan tenang dan bahagia. Hormon tersebut didapatkan dari konsumsi makanan dan aktivitas tertentu. Jadi, artinya bahwa kita harus memperhatikan makanan apa yang akan kita konsumsi. Setiap orang tentunya dan pasti mempunyai ciri khas tersendiri dalam merekam cita rasa makanan yang ia sukai yang nantinya setelah ia mengonsumsi makanan tersebut akan memberikan kepuasaan tersendiri baginya sehingga membuatnya bahagia. Juga pola hidup yang sehat dan teratur tentunya tidak boleh terlepas dalam hal ini. Menurut penelitian dari Universitas Kansas, tersenyum dapat menurunkan tingkat stres, menenangkan detak jantung dan membuat kita bahagia. Meski dilakukan secara pura-pura, hasilnya pun sama ketika kita tersenyum natural. Maka, sekalipun kondisimu saat ini sedang “hancur berantakan” sempatkanlah tersenyum dan rasakan sendiri reaksinya setelah kita tersenyum. Adalah juga melakukan kegiatan fisik seperti ber-olahraga untuk kesehatan jiwa dan raga juga dapat memicu endorfin yang membuat suasana hati kita lebih nyaman. Bahkan olahraga fisik tertentu juga punya efek yang sama dengan anti-depresan.
            Karena kebahagiaan adalah tujuan hidup kita, maka kebahagiaan pun tidak mengenal usia. Kebahagiaan adalah sesuatu yang abadi. Mengapa saya katakan demikian, contoh simpel nya hari ini kita merasa bahagia tapi bisa jadi besok kita tidak merasa bahagia. Di hari selanjutnya kebahagiaan itu pasti datang lagi kepada kita. Bukan berarti dengan hilangnya kebahagiaan itu menandakan bahwa selama kita hidup kita hanya merasakan satu  kebahagiaan saja, bukan? Pasti di hari-hari selanjutnya kebahagiaan itu datang lagi pada kita. Bahkan jika kita kita telah berpaling dari dunia kita percaya bahwa kita akan mendapat kebahagiaan kekal di alam baka. Pada intinya selama kita hidup, kebahagiaan senantiasa menghampiri hidup kita.
Hasil survei pada tahun 2017 silam yang dilakukan oleh World Happiness Report menyebutkan bahwa Norwegia adalah sebagai negara yang penduduknya paling bahagia. Berarti ada pula negara yang penduduknya kurang bahagia dan apa yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi tingkat kriminalitas yang tinggi, kualitas udara yang buruk yang disebabkan oleh hasil pembakaran bahan bakar minyak baik di pabrik-pabrik maupun pada kendaraan, atau bisa jadi ekonomi yang merosot yang berimbas pada meningkatnya jumlah pengangguran. Tapi, itu semua hanya contoh saja dan kita tidak akan membahas ke arah sana. Hasil survei yang dilakukan di 160 negara juga telah menemukan pada usia berapa orang paling kurang bahagia dalam hidupnya. Yang mana menurut survei tersebut ini mencari hubungan antara kondisi kebahagiaan, kesehatan, dan usia di dunia. Hasilnya ditemukan bahwa di negara-negara maju berbahasa Inggris, seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia, penurunan kebahagiaan hidup penduduknya terjadi pada usia antara 45 dan 54 tahun. Tingkat kebahagiaan itu naik lagi setelah usia 54 tahun. Mengapa banyak orang merasa kurang bahagia di usia paruh baya? Profesor Angus Deaton, salah satu peneliti, menduga bahwa penurunan tersebut terjadi karena itu adalah usia di mana seseorang mengalami lebih banyak stres, kecemasan, dan kemarahan, baik karena pekerjaan ataupun kehidupan sosialnya.
Namun melihat dari beberapa situasi lain berikut seperti kurangnya rasa bersyukur dan terlalu banyak mengeluh terhadap setiap kondisi maupun situasi. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain seolah-olah kita jauh tertinggal dari mereka. Mengabaikan potensi yang ada dalam diri sendiri. Tidak percaya diri. Tidak mampu memaafkan diri sendiri dan kesalahan orang lain sehingga menimbulkan dendam yang berakibat pada amarah dan pelampiasan. Selalu berpikir negatif dan terlampau pesimis dalam menilai dan memandang segala hal yang berakibat kurangnya menyerap sukacita untuk diri sendiri. Tidak mencintai diri sendiri dan sesama. Ini semua adalah hal-hal yang memperlambat pikiran dan perasaan kita untuk menerima dan merasakan kebahagiaan itu. Kebanyakan orang, bahagia itu selalu datang dari pasangan ataupun dari orang yang kita cintai. Sehingga jika kita tiba-tiba mengalami hubungan yang buruk terhadap orang-orang tersebut otomatis kita merasa kebahagiaan kita pun ikut sirna karena bergantung pada orang-orang tersebut.
Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk dapat merasakan bahagia itu dengan cara kita sendiri ?. Saya mencoba berbagi mengenai beberapa hal yang sangat berpengaruh terhadap kebahagiaan itu sendiri. Lagi-lagi, bukannya bermaksud untuk menggurui saya hanya ingin berbagi informasi, jika saya keliru terhadap informasi yang saya berikan tolong koreksi saya dan ini hanya sebagian kecil saja dan sebenarnya masih ada banyak hal lagi dari versi yang lain, namun ini yang saya rasa mungkin paling muda dan sederhana untuk kita lakukan dengan cara sendiri dalam menggapai kebahgiaan itu, yakni pertama, bersyukur (gratitude). Karena dengan bersyukur berarti kita telah menerima semuanya atas apa yang terjadi pada kita dengan ikhlas dan damai, bersyukur atas potensi, bakat, pekerjaan, atau apapun yang kita miliki. Bahkan di saat malang, di saat sedang sakit maupun saat sedang berduka kita harus tetap bersyukur karena itu semua merupakan hal yang wajib hukumnya terjadi pada setiap manusia. Tidak ada manusia yang dapat terhindar dari yang namanya  sial, penyakit dan duka. Ke-dua, memaafkan (forgiveness). Memaafkan perlu kita lakukan agar tidak ada lagi dendam yang tersimpan dalam batin kita, tidak ada lagi amarah yang akan kita balas kelak, dan biarkan semua permasalahan yang menghampiri kita itu mengalir dengan sendirinya sehingga dengan demikian terpancarlah suatu ketenangan batin. Ke-tiga, optimis (optimism). Optimis sangat penting karena dengan memandang segala sesuatu dengan sikap optimis otomatis akan memberi kita banyak harapan dan kemungkinan-kemungkinan terbaik yang dapat kita lakukan dan yang akan terjadi pada diri kita. Namun, saya mengingatkan juga janganlah terlalu banyak berharap pada manusia. Manusia bukan makhluk yang sempurna. Manusia kadang membawa dukacita kadang pula membawa sukacita. Bahkan orang-orang terdekat kita-lah yang malah meberikan luka yang paling membekas dan kita tidak bisa melupakannya seumur hidup kita. Jangan terlalu berharap pada manusia. Melangkahlah saja di atas kaki sendiri dan lakukanlah segala yang terbaik yang kita bisa, hasilnya akan kita rasakan sendiri. Ke-empat, sukacita (joy) dan yang terakhir adalah kasih atau cinta (love). Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa cinta memiliki peranan yang besar sebagai salah satu syarat yang mutlak demi terwujudnya kebahagiaan. Satu yang penting, cintailah sesamu seperti kau mencintai dirimu sendiri. Cintailah dirimu sendiri sebagaimana engkau mencintai Penciptamu. Dirimu adalah rupa daripada Penciptamu. Tak perlu bergantung pada orang lain untuk bahagia. Gapailah bahagiamu dengan caramu sendiri.
Ada satu hal yang juga sebenarnya sangat penting dan berpengaruh terhadap kebahagiaan. Saya hanya ingin berbagi informasi saja kepada semua orang. Adalah mindfulness. Dalam forum ekonomi dunia Davos 2014, Richard J. Davidson–seorang neuroscientist yang meneliti mindfulness dari University of Wisconsin-Madison–berbicara kepada para pemimpin negara dan para CEO terkemuka di dunia tentang hasil penelitian ilmiah yang dilakukannya, yang telah mengungkap peranan besar mindfulness bagi kesehatan dan kebahagiaan. Penelitian Davidson dan para ahli lainnya telah memberikan harapan besar bahwa kesehatan dan kebahagiaan bukan merupakan tujuan abstrak, melainkan suatu hal yang konkret yang dapat diraih melalui latihan dan ketekunan. (Huffington Post, 23 Januari 2014). Dari suatu teknik klasik dunia Timur (khususnya Buddhisme) yang dulu begitu asing bagi telinga manusia modern, mindfulness sekarang telah diteliti dan dikaji secara ilmiah di berbagai pusat sains paling bergengsi di dunia.
Dalam tradisi Buddhisme (asal mula “aplikasi” mindfulness), mindfulness adalah salah satu teknik yang sangat penting yang perlu dilatih dan dikembangkan seumur hidup oleh semua penganut Buddha. Tujuan akhirnya tidak kurang daripada pembebasan, yaitu pembebasan dari dukkha (penderitaan) di dunia ini, dan mencapai nirvana (kondisi bebas dan penuh sukacita sejati). Latihan mindfulness bertujuan supaya orang yang melakukan terhindar dari kekalutan pikiran yang akan membuahkan derita dan sekaligus melatih pikiran untuk menyadari senantiasa beberapa ciri keberadaan, supaya ia memperoleh pencerahan, mengenal hakikat sejati realitas dan terbebaskan. Sementara mindfulness yang dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn (Kabat-Zinn, J. & Hanh, T.N., 2009), Shauna Shapiro (Bishop, S.R., Lau, M., Shapiro, S., Carlson, L., Anderson, N. D., Carmody, J. & Devins, G., 2004) adalah versi sekulernya, artinya sudah dilepaskan dari sisi doktrin agama dan kepercayaan, supaya mindfulness  dapat dipelajari dan dilatih oleh siapa saja, tidak harus orang yang beragama Buddha; juga dengan demikian dapat diteliti menggunakan metode ilmiah. Mungkin kita dapat mencari tahu tentang ini dari berbagai sumber lain, saya hanya memberikan sedikit gambaran saja.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan pula bahwa pertama-tama kita harus dapat mengenali diri kita sendiri lebih jauh dan apa cita-cita kita. Mencoba berteman dengan diri sendiri dan menerima apa yang ada di dalam diri kita sering kali kita abaikan. Sehingga untuk menyerap berbagai kenyaatan yang kita alami kadang-kadang membuat kita cemas dan merasa takut. Karena kita belum mengenal diri kita, termasuk apa kelebihan dan apa kekurangan yang ada dalam diri kita. Padahal, tanpa kita sadari dengan menerima diri sendiri dan berteman dengan diri sendiri merupakan suatu kebahagiaan yang kadang kita tidak menyadarinya.

Sumber :
4.  Iman Setiadi Arif, 2016. Psikologi Positif Pendekatan Santiik Menuju Kebahagiaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
5.    L. Hubbard, 2009. Analisis Diri. California : Bridge Publications, Ing.








Friday, February 28, 2020

BERSYUKUR


BERSYUKUR


RABU, 26 FEBRUARI 2020

Sebelum melanjutkan tulisan ini panjang lebar, saya akan bertanya kepada kita sekalian, sudahkah kita bersyukur hari ini, kemarin dan yang lalu-lalu ? Pertanyaan ini yang paling mendasar yang kembali mengingatkan kita bahwa segala sesuatunya itu perlu disyukuri. Bagi yang sudah bersyukur, pertama-tama apa yang kita rasakan ? Bagaimana ekpresi kita, kebatinan kita ? Bandingkan sebelum kita bersyukur, apa perbedaannya ? Tentu perbedaan tersebut akan dirasakan bagi orang-orang yang dengan segenap hatinya mau bersyukur tanpa adanya suatu paksaan. Berikutnya,saya menuju kepada kita yang belum bersyukur atau belum sempat bersyukur. Apa yang kita rasakan ? Selalu merasa tidak puas ? Selalu merasa seperti ada yang kurang ? Stress kah ? Oke, itu adalah suatu hal yang wajar karena manusia diciptakan memiliki kehendak bebas. Dengan kehendak bebas itulah manusia hendak menentukan ke arah mana ia akan membawa jiwanya serta dirinya. Namun, apakah wajar jika kita seringkali menghakimi diri sendiri bila diri kita tidak mampu mencapai suatu prestasi ? Apakah wajar menyalahkan sepenuhnya kepada diri kita ? Seolah-olah tidak ada potensi yang dapat kita kembangkan. Apakah kita lupa bahwa setiap manusia memiliki kemampuannya masing-masing hanya saja kita terlalu sibuk membanding-bandingkan diri kita terhadap orang lain.

            Baiklah, coba bayangkan di pikiran kita mengenai berbagai jenis manusia dengan profesinya ataupun pekerjaannya. Mulai dari sang Direktur atau pimpinan di kantornya, pegawai negeri biasa di pemerintahan, karyawan swasta, pekerja serabutan, penarik becak, pedagang kaki lima hingga seorang pemulung di jalanan juga beberapa anak kecil yang berkeliaran di sekitaran jalan yang seharusnya dipakai untuk jam belajar, tapi karena tuntutan ekonomi terpaksa harus meminta-minta di jalan demi kebutuhan hidupnya. Coba kita bayangkan semuanya itu lebih dalam satu per satu. Saya tidak akan melangkah ke tulisan selanjutnya jika kita belum membayangkannya. Bayangkan jika kita berada di semua posisi itu, bayangkan secara bergantian. Mulai dari bagaimana rasanya jika kita menjadi seorang Pimpinan atau Bos hingga bagaimana rasanya jika kita berada di posisi anak jalanan tadi. Pasti ada kekhawatiran yang timbul dalam diri kita. Hidup itu ibarat roda. Beruntung bagi kita yang terlahir istimewa yang  dalam artian kita berasal dari keluarga yang cukup atau bahkan berkelimpahan. Sedangkan jika kita yang terlahir miskin, harus benar-benar bekerja keras untuk menunjang hidup kita. Namun, kembali lagi bagaimana cara kita ingin berjuang mempertahankan hidup ini. Saya teringat kata-kata dari Bill Gates yang mengatakan demikian “Terlahir miskin itu bukan salah kamu, tetapi mati dalam keadaan miskin, itu sudah pasti salah kamu” kurang lebih Bill Gates mengatakan demikian, koreksi bila saya salah. Tidak nyambung dengan topik ?  benar. Itu hanya selingan saja yang menurut saya memang masih ada sangkut pautnya dengan bersyukur. Kita terlahir miskin ya bersyukur atau kita terlahir kaya pun harus bersyukur. Jika saya kaitkan dengan perkataan Bill Gates tadi, bila kita terlahir dalam keadaan apapun jangan lupa untuk bersyukur tapi ingat jangan lupa ‘dibarengi’ dengan suatu niat yang baik yang akan membawa kita kepada suatu perubahan yang membuat kita menjadi sejahtera. Khususnya bagi kita yang terlahir miskin. Yang terlahir kaya pun demikian, bila hanya mengandalkan pendapatan orang tua, mau bisa apa kita bila orang tua sudah tidak ada. Harta itu adalah benda yang mau tidak mau pasti akan habis atau lenyap. Atau di kemudian hari bisa saja dipindahtangankan kepada pihak yang berwajib.

            Tidak jarang di antara kita yang kurang mensyukuri atau bahkan tidak mensyukuri berbagai macam hal yang diperolehnya. Selalu saja merasa kekurangan, baik posisinya sebagai seorang pimpinan atau bos yang kurang mensyukuri bahwa kinerja karyawannya masih kurang padahal pencapaiannya telah terpenuhi. Selalu ingin melebihi target. Itu memang pemikiran yang bagus. Tapi karena cita-cita yang berlebih itu kita jadi lupa bersyukur bahwa kita telah mencapai apa yang seharusnya. Selalu ada rasa ketidak-puasan dalam diri. Tapi beda halnya pada suatu ketika saya melihat seorang pemulung di jalan yang bisa dibilang jauh bedalah keadaannya dengan para pimpinan di kantor, pemulung itu menyempatkan diri untuk tersenyum. Saya berpapasan di sampingnya lantas pemulung itu tersenyum ramah pada saya. Bayangkan, jika melihat dari tampilannya saja sudah pasti ia hidup pas-pasan atau bahkan berkekurangan tetapi dari senyuman itu saya dapat melihat bahwa pemulung tersebut menikmati hidupnya. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya, kebetulan hari ini pas dengan hari Rabu Abu, hari yang sakral bagi umat Katolik di mana pada hari Rabu Abu ditandai sebagai awal berpuasa 40 hari bagi umat Katolik yang akan merayakan Paskah. Dalam perjalanan dari rumah menuju kantor, tepat di lampu merah persimpangan jalan, sepasang anak laki-laki dan perempuan dengan pakaian yang sobek-sobek dengan keadaan yang usang duduk di atas trotoar di samping saya. Kemudian saya memandangi anak itu lama dan dalam. Mata saya lalu berkaca-kaca melihat kondisi anak itu yang seolah menampar saya di dalam hati. Saya tersadar selama ini saya kurang bersyukur. Selalu mengeluh akan kondisi saya yang hidup dalam kondisi yang berkecukupan bila dibandingkan dengan anak itu tadi. Selalu ada rasa tidak puas dari dalam diri saya. Padahal jika saya merenung lebih dalam ada banyak orang di luar sana yang kelaparan dan bahkan belum pernah merasakan kehidupan yang lebih sejahtera atau kehidupan yang lebih layak. Padahal juga jika saya renungkan lagi, kebutuhan hidup saya masih terpenuhi sedikit-sedikit dengan mengandalkan penghasilan orang tua saya. Saya sangat terpukul membayangkan kehidupan anak itu. Usia yang seharusnya mendapatkan pendidikan di bangku sekolah dasar, tapi karena kerasnya hidup, ia terpaksa mohon maaf jadi pengemis di persimpangan jalan. Saya berterima kasih kepada anak itu yang mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa apa artinya bersyukur. Sepanjang hari saya terus membayangkan kejadian itu, sembari saya merefleksi diri. Peristiwa itu sungguh mengetuk hati saya. Sejak saat itu saya akan berusaha untuk tidak mengeluh dalam keadaan apapun melainkan saya harus mensyukuri apapun yang terjadi pada saya.
            Akhir kata, sejak peristiwa itu saya berusaha untuk berbenah diri dari yang tadinya selalu mengeluh saya berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Bersyukur juga memberikan dampak yang positif bagi diri kita dan saya percaya itu. Dan tentunya saya mengajak kita sekalian marilah sering-sering bersyukur, luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan hidup kita, apakah kita sudah bersyukur hari ini ? Sekian. Terima kasih.
           

           

Jurnal Hukum "Tanggungjawab Notaris Terhadap Akta Tidak Dibacakan di Hadapan Para Pihak/Penghadap"

Friday, September 27, 2019

Chord Panggilan Tuhan


Panggilan Tuhan
Cipt. L.Putut Pudyantoro
Intro : C G Am G F Am Dm G

C            G       Am           Em
Kala kudengar panggilan Tuhan
F               C           F          Bm      G     
Ku persembahkan seluruh hidupku
C          G        Am          Em
Lalu kuarungi samudera luas
F               Em    Dm       G      C
Berpegang pada kasih setia-Nya
D#                                A#
Satu per satu waktu berlalu
D#                                D
Silih berganti hari berlari
             G              C                      G   C D
Ombak dan badai datang menerjang
                            G     A             D
Menghempas bahtera karya doaku
                  G         C                 Em  C D
Angin dan taufan riuh menghujam
                 G           Am    D    G
Mengoyak tipisnya layar asaku


Solo : C G Am Em  F C F A# A

D             C#m   Bm             F#m
Di dalam gelap, Tuhan terangku
G             D        E                 A
Di dalam terang kubagi kasihku

D      C#m         Bm        A
Patut kusyukuri niat suci ini
G                 D         Em           A    D
Karya kasih Tuhan, panggilan mulia

G                D                       Em    A
Puji syukur kan kulambungkan
               D                 D7
Bagi Tuhan, Gembalaku
                 G   F#m      Em
Semoga kekal serta abadi
A              D       D7
Panggilanku

            G  F#m      Em   A
Saat-saat ku putus asa
                D                      D7
Tuhan datang menghiburku
             G  F#m                 Em
Jika tanpa campur tangan-Nya
A             D
Tak berguna

D

Hari Buruh

MAYDAY MAYDAY MAYDAY Tidak ada pekerjaan mengeluh. Ada pengerjaan pun juga mengeluh. Lah kenapa mesti mengeluh, bukannya bagus ya ji...